Sejarah Pura Ulun Danu Batur
Pura Ulun Danur Batur sebagai kahyangan jagat umat Hindu di Bali, dimuliakan sebagai stana Bhatara Wisnu. Pura Batur disebut Pura Pradana sedangkan Pura Besakih disebut Pura Purusa. Di Pura Besakih, Tuhan dipuja untuk menguatkan jiwa kerohanian umat untuk mencapai kebahagiaan spiritual. Sedangkan di Pura Batur, Tuhan dipuja untuk menguatkan spiritual umat dalam membangun kemakmuran ekonomi.
Sebagai stana Bhatara Wisnu, yang dalam konsep masyarakat Batur terkenal dengan sebutan Batari Dewi Danuh, Pura Ulun Danu memiliki sejarah yang sangat menarik, baik yang berkembang secara turun-temurun, sebagai cerita rakyat yang hidup di Batur serta masyarakat pemuja di sekitarnya, mau pun sebagaimana termuat dalam beberapa babad.
Sejarah Pura Ulun Danu Batur
Sebelum letusan Gunung Batur yang dasyat pada tahun 1917, Pura Batur semula terletak di kaki Gunung itu dekat tepi Barat Daya Danau Batur. Letusan Gunung Batur merusakkan 65.000 rumah, 2.500 Pura dan lebih dari ribuan kehidupan. Tetapi keajaiban menghentikannya pada kaki Pura.
Orang-orang melihat semua ini sebagai pertanda baik dan melanjutkan untuk tetap tinggal disana. Pada tahun 1926 letusan baru menutupi seluruh Pura kecuali “Pelinggih” yang tertinggi, temapt pemujaan kepada Tuhan dalam perwujudan Dewi Danu, Dewi air danau. Kemudian warga desa bersikeras untuk menempatkannya di tempat yang lebih tinggi dan memulai tusag mereka untuk membangun kembali pura. Mereka membawa pelinggih yang masih utuh dan membangun kembali Pura Batur.
Beberapa lontar suci Bali kuno menceritakan asal mula Pura Batur yang merupakan bagian dari “sad kayangan” enam kelompok Pura yang ada di Bali yang tercatat dalam lontar Widhi Sastra, lontar Raja Purana dan Babad Pasek Kayu Selem. Pura Batur juga dinyatakan sebagai Pura “Kayangan Jagat” yang disungsung oleh masyarakat umum.
Sejarah Pura Batur merupakan persembahan untuk Dewi Kesuburan, Dewi Danu. Dia adalah Dewi dari air danau. Air yang kaya akan mineral mengalir dari Danau Batur, mengalir dari satu petak sawah ke petak sawah yang lainnya, lambat laun turun ke bumi. Dalam lontar Usaha Bali, salah satu sastra suci yang ditempatkan di pura itu, ada legenda kuno yang melukiskan susunan dari tahta Dewi Danu.
Kisah Pura Batur Dalam Lontar
Dalam Lontar Usana Bali diceritakan secara mitologis bahwa Gunung Mahameru di India sangat tinggi hampir menyentuh langit. Kalau langit sampai tersentuh maka hancurlah alam ini. Karena itu Sang Hyang Pasupati mengambil puncak Gunung Mahameru di India dengan kedua tangannya. Bongkahan Gunung Mahameru itu diterbangkan ke Bali. Bongkahan yang digenggam dengan tangan kanan beliau menjadi Gunung Agung. Sedangkan bongkahan pada tangan kiri beliau menjadi Gunung Batur. Di Gunung Agung distanakan Sang Hyang Putra Jaya (Sang Hyang Maha Dewa). Sedangkan di Gunung Batur distanakan Dewi Danuh. Dewi Danuh itu tidak lain adalah saktinya Dewa Wisnu. Dewa Wisnu adalah Tuhan sebagai dewanya air untuk kemakmuran makhluk hidup.
Lontar yang menyebutkan keberadaan Pura Batur ini antara lain Lontar Usana Bali, Lontar Kusuma Dewa, Lontar Raja Purana Batur. Menurut lontar tersebut Pura Batur adalah Pura Sad Kahyangan yang tergolong Kahyangan Jagat untuk memuja Tuhan sebagai Dewa Kemakmuran. Kahyangan Jagat adalah tempat pemujaan Tuhan bagi semua umat Hindu.
Semoga artikel ini dapat bermanfaat untuk semeton. Jika terdapat penjelasan yang kurang lengkap atau tepat, mohon dikoreksi bersama. Suksma…
(sumber :babadbali.com)
Rabu, 02 Mei 2018
Sejarah Pura Besakih
Sejarah Berdirinya Pura Besakih
Pura Besakih merupakan pura terbesar yang ada di Bali yang tepatnya terletak di Kecamatan Rendang,Kabupaten Karangasem. Dulu, tempat sebelum dibangunnya Pura Besakih hanya terdapat kayu-kayuan dalam sebuah hutan belantara. Sebelum adanya selat Bali ( Segara Rupek ) Pulau Bali dan pulau Jawa dahulu masih menjadi satu dan belum dipisahkan oleh laut, pulau ini bernama Pulau Panjang atau Pulau Dawa. Di suatu tempat di Jawa Timur yaitu di Gunung Rawang (Gunung Raung) ada seorang Yogi atau pertapa yang bernama Resi Markandeya. Karena ketinggian ilmu bhatinnya ,kesucian rohaninya,serta kecakapan dan kebijaksanaan beliau maka oleh rakyat,beliau diberi julukan Bhatara Giri Rawang.
Pada mulanya Resi Markandeya bertapa di Gunung Demulung, kemudian pindah ke gunung Hyang (konon gunung Hyang itu adalah DIYENG di Jawa Tengah yang berasal dan kata DI HYANG). Sekian lamanya beliau bertapa di sana, mendapat titah dari Hyang Widhi Wasa agar beliau dan para pengikutnya merabas hutan di pulau Dawasetelah selesai, agar tanah itu dibagi-bagikan kepada para pengikutnya.
Demikianlah kemudian beliau berangkat ke tanah Bali disertai pengikutnya yang pertama yang berjumlah 8000 orang dengan perlengkapan dan peralatan yang diperlukan. Sesampainya ditempat yang dituju,beliau memerintahkan pengikutnya agar mulai merambas hutan. Akan tetapi Saat merabas hutan, banyak para pengiring Sang Yogi Markandeya yang sakit, lalu mati dan ada juga yang mati dimakan binatang buas, karena tidak didahului dengan upacara yadnya (bebanten / sesaji).
Kemudian beliau memerintahkan pengikutnya untuk menghentikan perambasan. Dengan hati yang sedih beliau kemudian mengajak pengikutnya untuk kembali ke Jawa. Beliau kembali ketempat pertapaannya semula untuk mohon petunjuk kepada sang Hyang Widhi.Setelah beberapa lamanya beliau berada dipertapaannya, timbul cita-citanya kembali untuk melanjutkan merambas hutan tersebut. Pada suatu hari yang baik,beliau kembali berangkat ke tanah Bali. Kali ini beliau mengajak pengikutnya yang kedua berjumblah 4000 orang yang berasal dari desa Aga yaitu penduduk yang mendiami lereng Gunung Rawung . Turut dalam rombongan itu para Pandita atau para Rsi. Para pengikutnya membawa perlengkapan beserta alat-alat pertanian dan bibit tanaman untuk ditanam di tempat yang baru.
Setelah tiba di tempat yang dituju, Resi Markandeya segera melakukan tapa yoga semadi bersama-sama para yogi lainnya dan mempersembahkan upakara yadnya, yaitu Dewa Yadnya dan Buta Yadnya. Setelah upacara itu selesai, para pengikutnya disuruh bekerja melanjutkan perabasan hutan tersebut, menebang pohon-pohonan dan lain-lainnya mulai dan selatan ke utara. Karena dipandang sudah cukup banyak hutan yang dirabas, maka berkat asung wara nugraha Hyang Widhi Wasa, Sang Yogi Markandeyamemerintahkan agar perabasan hutan, itu dihentikan dan beliau mulai mengadakan pembagian-pembagian tanah untuk para pengikut-pengikutnya masing-masing dijadikan sawah, tegal dan perumahan.
Demikianlah pengikut Rsi Markandya yang berasal dari Desa Aga ( penduduk lereng Gunung Rawung Jawa Timur ) menetap di tempat itu sampai sekarang. Ditempat bekas dimulainya perambasan hutan itu oleh Sang Rsi/Yogi Markandya menanam kendi (caratan) berisi air disertai 5 jenis logam yaitu: emas,perak,tembaga,perunggu dan besi yang disebut Panca Datu dan permata Mirahadi ( mirah yang utama ) dengan sitertai sarana upakara selengkapnya dan diperciki Tirta Pangentas ( air suci ). Tempat menanam 5 jenis logam itu diberinama Basuki yang artinya selamat. Kenapa disebut demikian,karena pada kedatangan Rsi Markandya yang ke dua beserta 4000 pengikutnya selamat tidak menemui hambatan atau bencana seperti yang dialami pada saat kedatangan beliau yang pertama. Ditempat itu kemudian didirikan palinggih. Lambat laun di tempat itu kemudian didirikan pura atau khayangan yang diberi nama Pura Basukian. Pura inilah cikal-bakal berdirinya pura –pura yang lain di komplek Pura Besakih. Ada pendapat yang mengatakan bahwa pembangunan pura ditempat itu dimulai sejak Isaka 85 atau tahun 163 Masehi. Pembangunan komplek pura di Pura Besakih sifatnya bertahap dan berkelanjutan disertai usaha pemugaran dan perbaikan yang dilakukan secara terus menerus dari masa kemasa.
(sumber:babadbali.com, senaya.web.id)
Pura Besakih merupakan pura terbesar yang ada di Bali yang tepatnya terletak di Kecamatan Rendang,Kabupaten Karangasem. Dulu, tempat sebelum dibangunnya Pura Besakih hanya terdapat kayu-kayuan dalam sebuah hutan belantara. Sebelum adanya selat Bali ( Segara Rupek ) Pulau Bali dan pulau Jawa dahulu masih menjadi satu dan belum dipisahkan oleh laut, pulau ini bernama Pulau Panjang atau Pulau Dawa. Di suatu tempat di Jawa Timur yaitu di Gunung Rawang (Gunung Raung) ada seorang Yogi atau pertapa yang bernama Resi Markandeya. Karena ketinggian ilmu bhatinnya ,kesucian rohaninya,serta kecakapan dan kebijaksanaan beliau maka oleh rakyat,beliau diberi julukan Bhatara Giri Rawang.
Pada mulanya Resi Markandeya bertapa di Gunung Demulung, kemudian pindah ke gunung Hyang (konon gunung Hyang itu adalah DIYENG di Jawa Tengah yang berasal dan kata DI HYANG). Sekian lamanya beliau bertapa di sana, mendapat titah dari Hyang Widhi Wasa agar beliau dan para pengikutnya merabas hutan di pulau Dawasetelah selesai, agar tanah itu dibagi-bagikan kepada para pengikutnya.
Demikianlah kemudian beliau berangkat ke tanah Bali disertai pengikutnya yang pertama yang berjumlah 8000 orang dengan perlengkapan dan peralatan yang diperlukan. Sesampainya ditempat yang dituju,beliau memerintahkan pengikutnya agar mulai merambas hutan. Akan tetapi Saat merabas hutan, banyak para pengiring Sang Yogi Markandeya yang sakit, lalu mati dan ada juga yang mati dimakan binatang buas, karena tidak didahului dengan upacara yadnya (bebanten / sesaji).
Kemudian beliau memerintahkan pengikutnya untuk menghentikan perambasan. Dengan hati yang sedih beliau kemudian mengajak pengikutnya untuk kembali ke Jawa. Beliau kembali ketempat pertapaannya semula untuk mohon petunjuk kepada sang Hyang Widhi.Setelah beberapa lamanya beliau berada dipertapaannya, timbul cita-citanya kembali untuk melanjutkan merambas hutan tersebut. Pada suatu hari yang baik,beliau kembali berangkat ke tanah Bali. Kali ini beliau mengajak pengikutnya yang kedua berjumblah 4000 orang yang berasal dari desa Aga yaitu penduduk yang mendiami lereng Gunung Rawung . Turut dalam rombongan itu para Pandita atau para Rsi. Para pengikutnya membawa perlengkapan beserta alat-alat pertanian dan bibit tanaman untuk ditanam di tempat yang baru.
Setelah tiba di tempat yang dituju, Resi Markandeya segera melakukan tapa yoga semadi bersama-sama para yogi lainnya dan mempersembahkan upakara yadnya, yaitu Dewa Yadnya dan Buta Yadnya. Setelah upacara itu selesai, para pengikutnya disuruh bekerja melanjutkan perabasan hutan tersebut, menebang pohon-pohonan dan lain-lainnya mulai dan selatan ke utara. Karena dipandang sudah cukup banyak hutan yang dirabas, maka berkat asung wara nugraha Hyang Widhi Wasa, Sang Yogi Markandeyamemerintahkan agar perabasan hutan, itu dihentikan dan beliau mulai mengadakan pembagian-pembagian tanah untuk para pengikut-pengikutnya masing-masing dijadikan sawah, tegal dan perumahan.
Demikianlah pengikut Rsi Markandya yang berasal dari Desa Aga ( penduduk lereng Gunung Rawung Jawa Timur ) menetap di tempat itu sampai sekarang. Ditempat bekas dimulainya perambasan hutan itu oleh Sang Rsi/Yogi Markandya menanam kendi (caratan) berisi air disertai 5 jenis logam yaitu: emas,perak,tembaga,perunggu dan besi yang disebut Panca Datu dan permata Mirahadi ( mirah yang utama ) dengan sitertai sarana upakara selengkapnya dan diperciki Tirta Pangentas ( air suci ). Tempat menanam 5 jenis logam itu diberinama Basuki yang artinya selamat. Kenapa disebut demikian,karena pada kedatangan Rsi Markandya yang ke dua beserta 4000 pengikutnya selamat tidak menemui hambatan atau bencana seperti yang dialami pada saat kedatangan beliau yang pertama. Ditempat itu kemudian didirikan palinggih. Lambat laun di tempat itu kemudian didirikan pura atau khayangan yang diberi nama Pura Basukian. Pura inilah cikal-bakal berdirinya pura –pura yang lain di komplek Pura Besakih. Ada pendapat yang mengatakan bahwa pembangunan pura ditempat itu dimulai sejak Isaka 85 atau tahun 163 Masehi. Pembangunan komplek pura di Pura Besakih sifatnya bertahap dan berkelanjutan disertai usaha pemugaran dan perbaikan yang dilakukan secara terus menerus dari masa kemasa.
(sumber:babadbali.com, senaya.web.id)
Asal usul manusia di indonesia
Asal-Usul Manusia Di indonesia
Manusia purba merupakan manusia yang diperkirakan adalah nenek monyang dari manusia sekarang, karna memiliki kesamaan-kesamaan tertentu karna dilihat dari temuan-temuan para ahli atau fosil-fosil struturnya hampir sama dengan manusia, Manusia purba di indonesia sering kali dikaitkan merupakan nenek moyang manusia indonesia karna menetap di wilayah indonesia pada zaman purba, Untuk lebih mengetahui Sejarah Manusia purba di indonesia dan Asal-Usul nenek monyang di indonesia sebagai berikut...
A. MANUSIA PURBA Dl INDONESIA
Sisa-sisa manusia purba terdapat di berbagai tempat di dunia. Di Indonesia sisa-sisa manusia purba baru diketemukan diJawa, yaltu di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Manusia purba di Indonesia berasal dan jaman quartair yang berlangsung kira-kira 600 ribu tahun. Seperti kita ketahui jaman quartair itu dibagi menjad 2, yaitu jaman dilluvium (pleistocen) dan jaman alluvium (holocen). Jaman dilluvium Indonesia oleh Dr. Von Koenigswald dibagi menjadi 3 bagian atau lapisan, yaitu lapisan bawah, lapisan tengah dan lapisan atas. Dan tiap-tiap bagian atau lapisan itu terdapat fosil manusia purba.
a. Dilluvium Bawah (Yang Tertua)
Dari bagian ini diketemukan fosil-fosil dan 3 jenis manusia purba, yaitu:
Meganthropus Palaeojavanicus. Jenis yang dianggap tertua dan fosilnya diketemukan diSangiran
Pithecanthropus Dubius, Fosilnya juga diketemukan di Sangiran. Para ahli masih ragu-ragu dalam menentukan fosil tersebut, yaitu benar-benar fosil manusia atau fosil kera. OIeh karena itu diberi nama pithecanthropus Dubius, artinya manusia kera yang meragu-ragukan.
Pithecanthropus Robustus atau Plthecanthropus Mojokertensis , Juga diketemukan di tempat yang sama. OIeh sarjana Weidenreich, manusia purba itu dinamakan Pithecanthropus Robustus, sedang Von Koenigswald menamakannya Pithecanthropus Mojokertensis. Karena beliau telah Iebih dahulu menemukan fosil yang serupa di Mojokerto
b. Dilluvium Tengah
Jenis manusia purba dan yang Iebih muda diketemukan oleh Dr. Eugene Dubois. OIeh beliau manusia tersebut dmam akan Pithecanthropus Erectus, artinya : manusia kera yang berjalan tegak.
c. Dilluvium Atas
Jenis manusia purba yang termuda dan jaman dilluvium, diketemukan di Ngandong dan dinamakan Homo Soloensis. Sedangkan jenis yang sama dengan yang diketemukan di Wajak (Tulungagung) dinamakan Homo Wajakensis.
B. KEHIDUPAN / PENGHIDUPAN MANUSIA PURBA INDONESIA
Kehidupan/penghidupan manusia purba tidak dapat diketahui dengan jeIas. Kita hanya dapat memperoleh gambaran berdasarkan alat-alat kebudayaan yang telah diketemukan Adapun gambaran yang kita peroleh kira-kira sebagai berikut
Mereka belum mengenal cocok tanam atau peternakan Bahan pangan mereka peroleh Iangsung dan alam. misaInya berburu, memetik buah-buahan dan lain-lain. Jadi termasuk food gathering.
Mereka belum bertempat tinggal tetap, melainkan berkelana dari tempat satu ke tempat lain secara berkelompok.
C. HOMO SAPIENS
Homo Sapiens artinya manusia cerdik. Yaitu manusia yang berasal dan jaman alluvium atau holocen. Homo Sapiens inilah yang dianggap sebagai nenek moyang langsung manusia sekarang (berasal dan ± 20 ribu tahun yang lalu). Kebudayaan Homo Sapiens Indonesia telah setapak lebih maju dari pada kebudayaan manusia purba. Kebudayaan mereka disebut kebudayaan batu tengah atau Mesolithicum (mesos tengah, lithos = batu).
Homo Sapiens telah bertempat tinggal tetap dan agaknya telah melakukan cocok-tanam. Di tepi pantal orang tinggal dirumah-rumahpanggung, sedang di daerah pedalaman tinggal di dalam gua-gua. Hal itu diketahui berhubung diketemukannya kyokkenmoddinger di Sumatra Timur dan beberapa lukisan di dalam gua-gua di daerah Sulawesi Selatan.
Adapun yang disebut kyokkenmoddinger ialah timbunan atau bukit kulit kerang. Agaknya orang-orang yang mendiami rumah panggung sangat gemar makan kerang. Sesudah diambil dagingnya, kulit kerang-kerang itu dibuang dibawah rumah. Lama-kelamaan kulit kerang tadi bertimbun-timbun sehingga membukit. Apakáh perbedaan tubuh manusla purba dengan homo sapiens? Perbedaan terutama pada tengkoraknya:
Perbedaan Tubuh Manusia Purba dengan Homo Sapiens
1. Ruang otak manusia purba lebih kecl daripada homo sapiens, sehingga volume otaknya lebih kecil.
2. Tulang kening manusia purba lebih menonjol ke depan
3. Pada tulang rahang bawah, tulangnya lurus ke belakang, sehingga dapat dikatakan tidak berdagu.
4. Tulang rahang manusia purba lebih besar dan lebih kuat, demikian pula gigi-giginya.
D. NENEK MOYANG BANGSA INDONESIA
Asal-mula bangsa Indonesia - Menurut pendapat sarjana Kern dan Heine Geldern, nenek moyang bangsa kita berasal dan daratan Asia. Mula-mula nenek moyang kita diam di daerah Yunan (China Selatan), kemudian pindah ke selatan (ke daerah Vietnam). Oleh suatu sebab yang belum diketahui dengan pasti, mereka kemudian pindah lagi. Perpindahan tadi diduga terjadi antaratahun 1500 S.M.hingga tahun 500 SM. dan berlangsung secara bergelombang. Gerak tujuan perpindahan mereka ke pulau-pulau di sebelah selatan daratan Asia.
Pulau-pulau itu menjadi tanah airnya terakhir. Pulau-pulau di sebelah selatan daratan Asia tadi lazirnnya disebut AUSTRONESIA (Austro = selatan, nesos = pulãu). Bangsa yang mendiami daerah Austronesia disebut bangsa Austronesia. Bangsa Austronesia mendiami daerah Iingkup yang amat luas. Yaitu meliputi daerah atau pulau-pulau yang membentang antara Madagaskar (sebelah barat)hingga Pu/au Paska (sebelah timur) dan antara Taiwan (sebelah utara) hingga Se/andia Baru (sebelah selatan). Bangsa Austronesia yang masuk ke Indonesia disebut BANGSA MELAYU. Mereka adalah nenek moyang Iangsung bangsa Indonesia sekarang.
Bangsa Melayu dapat dibedakan menjadi 2. yaitu:
Bangsa Proto Melayu (bangsa Melayu Tua).
Bangsa Deutero Melayu (bangsa Melayu Muda).
1. Bangsa Proto Melayu (Bangsa Melayu Tua)
Advertisement
Kira-kira tahun 1500 SM. bangsa Proto Melayu masuk ke Indonesia.
a. Bangsa Proto Melayu memasuki Indonesia melalui 2 jalan, yaitu: jalan barat (melalui Malaya- Sumatra), dan jalan timur (melalui Philipina — Sulawesi Utara).
b. Bangsa Proto Melayu memiliki kebudayaan yang setingkat lebih tinggi daripada kebudayaan Homo Sapiens Indonesia. Kebudayaan mereka adalah kebudayaan batu baru atau neolithicum (neo baru. lithos = batu). Meskipun barang-barang Hasil kebudayaan mereka masih terbuat dari batu, akan tetapi telah dikerjakan dengan baik sekali. Barang-barang hasil kebudayaan mereka yang terkenal ialah kapak persegi dan kapak lonjong. Kebudayaan kapak persegi dibawa oleh bangsa Proto Melayu yang melalui jalan barat, sedang kebudayaan kapak lonjong dibawa oleh mereka yang melalui jalan utara.
c. Bangsa Proto Melayu akhirnya terdesak atau bercampur darah dengan bangsa Deutero Melayu yang kemudian menyusul masuk ke Indonesia
d. Bangsa Indonesia sekarang yang termasuk anak keturunan bangsa Proto Melayu, misalnya suku bangsa Dayak, Toraja dan lain-lain
2. Bangsa Deutero Melayu (Bangsa Melayu Muda)
Kira-kira tahun 500 SM. nenek moyang kita gelombang yang kedua mulal memasuki Indonesia
a. Bangsa Deutero Melayu memasuki Indonesia melalui satu jaIan saja, yaitu jalan barat (jadi meIalu Melayu Sumatra).
b. Bangsa Deutero Melayu memiIiki kebudayaan yang lebih tinggi daripada bangsa Proto Melayu.
Barang-brang hasil kebudayaan mereka telah terbuat dan logam. Mula-mula dan perunggu dan kemudian dan besi. Hasil kebudayaan logam Indonesia yang terpenting alah kapak corong atau kapak sepatu dan nekara Barang-barang dan logam tadi umumnya dibuat dengan tehnik a cire perdeu.
c. Bangsa Indonesia sekarang yang termasuk keturunan bangsa Deutero Melayu, misalnya suku bangsa Jawa, Melayu, Bugis dan lain-lain.
PENDESAKAN DAN PERCAMPURAN
Sebelum nenek moyang kita masuk dan menetap di Indonesia, di sini telah didiami oleh suku bangsa lain, yaitu
1. Suku bangsa WEDOID
2. Suku bangsa NEGRITO
KEBUDAYAAN
Nenek moyang kita telah memiliki kebudayaan yang tinggi mutunya. Hal ini ditunjukkan oleh bukti-bukti sebagai berikut:
1. Mereka telah mengenal tehnik pembuatan barang pecah beIah dan tehnik pembuatan barang-ba rang dan logam.
2. Mereka telah pandai menenun kain. Di antara barang pecah belah yang diketemukan ada yang dihiasi dengan cap-cap tenunan
3. Mereka yang hidup di pesisir telah pandai membuaf perahu, terutama perahu bercadik (bersayap).
4. Mereka juga telah maju di bidang kesënian
AGAMA / KEPERCAYAAN
Agama/kepercayaan nenek moyang kita oleh para sarjana disebut Dynamisme dan Animisme.
Dynamisme adalah suatu kepercayaan bahwa setiap mahkluk hidup dan benda mati memiliki kekuatan gaib.
Animisnie adalah kepercayaan bahwa setiap makhluk hidup dan benda mati memiliki rokh, 3wa atau nyawa.
Batas antara dynamisme dan animisme sebenarnya kurang jelas. Bahkan dalam prakteknya selalu bercampur satu dengan yang lain.
Manusia purba merupakan manusia yang diperkirakan adalah nenek monyang dari manusia sekarang, karna memiliki kesamaan-kesamaan tertentu karna dilihat dari temuan-temuan para ahli atau fosil-fosil struturnya hampir sama dengan manusia, Manusia purba di indonesia sering kali dikaitkan merupakan nenek moyang manusia indonesia karna menetap di wilayah indonesia pada zaman purba, Untuk lebih mengetahui Sejarah Manusia purba di indonesia dan Asal-Usul nenek monyang di indonesia sebagai berikut...
A. MANUSIA PURBA Dl INDONESIA
Sisa-sisa manusia purba terdapat di berbagai tempat di dunia. Di Indonesia sisa-sisa manusia purba baru diketemukan diJawa, yaltu di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Manusia purba di Indonesia berasal dan jaman quartair yang berlangsung kira-kira 600 ribu tahun. Seperti kita ketahui jaman quartair itu dibagi menjad 2, yaitu jaman dilluvium (pleistocen) dan jaman alluvium (holocen). Jaman dilluvium Indonesia oleh Dr. Von Koenigswald dibagi menjadi 3 bagian atau lapisan, yaitu lapisan bawah, lapisan tengah dan lapisan atas. Dan tiap-tiap bagian atau lapisan itu terdapat fosil manusia purba.
a. Dilluvium Bawah (Yang Tertua)
Dari bagian ini diketemukan fosil-fosil dan 3 jenis manusia purba, yaitu:
Meganthropus Palaeojavanicus. Jenis yang dianggap tertua dan fosilnya diketemukan diSangiran
Pithecanthropus Dubius, Fosilnya juga diketemukan di Sangiran. Para ahli masih ragu-ragu dalam menentukan fosil tersebut, yaitu benar-benar fosil manusia atau fosil kera. OIeh karena itu diberi nama pithecanthropus Dubius, artinya manusia kera yang meragu-ragukan.
Pithecanthropus Robustus atau Plthecanthropus Mojokertensis , Juga diketemukan di tempat yang sama. OIeh sarjana Weidenreich, manusia purba itu dinamakan Pithecanthropus Robustus, sedang Von Koenigswald menamakannya Pithecanthropus Mojokertensis. Karena beliau telah Iebih dahulu menemukan fosil yang serupa di Mojokerto
b. Dilluvium Tengah
Jenis manusia purba dan yang Iebih muda diketemukan oleh Dr. Eugene Dubois. OIeh beliau manusia tersebut dmam akan Pithecanthropus Erectus, artinya : manusia kera yang berjalan tegak.
c. Dilluvium Atas
Jenis manusia purba yang termuda dan jaman dilluvium, diketemukan di Ngandong dan dinamakan Homo Soloensis. Sedangkan jenis yang sama dengan yang diketemukan di Wajak (Tulungagung) dinamakan Homo Wajakensis.
B. KEHIDUPAN / PENGHIDUPAN MANUSIA PURBA INDONESIA
Kehidupan/penghidupan manusia purba tidak dapat diketahui dengan jeIas. Kita hanya dapat memperoleh gambaran berdasarkan alat-alat kebudayaan yang telah diketemukan Adapun gambaran yang kita peroleh kira-kira sebagai berikut
Mereka belum mengenal cocok tanam atau peternakan Bahan pangan mereka peroleh Iangsung dan alam. misaInya berburu, memetik buah-buahan dan lain-lain. Jadi termasuk food gathering.
Mereka belum bertempat tinggal tetap, melainkan berkelana dari tempat satu ke tempat lain secara berkelompok.
C. HOMO SAPIENS
Homo Sapiens artinya manusia cerdik. Yaitu manusia yang berasal dan jaman alluvium atau holocen. Homo Sapiens inilah yang dianggap sebagai nenek moyang langsung manusia sekarang (berasal dan ± 20 ribu tahun yang lalu). Kebudayaan Homo Sapiens Indonesia telah setapak lebih maju dari pada kebudayaan manusia purba. Kebudayaan mereka disebut kebudayaan batu tengah atau Mesolithicum (mesos tengah, lithos = batu).
Homo Sapiens telah bertempat tinggal tetap dan agaknya telah melakukan cocok-tanam. Di tepi pantal orang tinggal dirumah-rumahpanggung, sedang di daerah pedalaman tinggal di dalam gua-gua. Hal itu diketahui berhubung diketemukannya kyokkenmoddinger di Sumatra Timur dan beberapa lukisan di dalam gua-gua di daerah Sulawesi Selatan.
Adapun yang disebut kyokkenmoddinger ialah timbunan atau bukit kulit kerang. Agaknya orang-orang yang mendiami rumah panggung sangat gemar makan kerang. Sesudah diambil dagingnya, kulit kerang-kerang itu dibuang dibawah rumah. Lama-kelamaan kulit kerang tadi bertimbun-timbun sehingga membukit. Apakáh perbedaan tubuh manusla purba dengan homo sapiens? Perbedaan terutama pada tengkoraknya:
Perbedaan Tubuh Manusia Purba dengan Homo Sapiens
1. Ruang otak manusia purba lebih kecl daripada homo sapiens, sehingga volume otaknya lebih kecil.
2. Tulang kening manusia purba lebih menonjol ke depan
3. Pada tulang rahang bawah, tulangnya lurus ke belakang, sehingga dapat dikatakan tidak berdagu.
4. Tulang rahang manusia purba lebih besar dan lebih kuat, demikian pula gigi-giginya.
D. NENEK MOYANG BANGSA INDONESIA
Asal-mula bangsa Indonesia - Menurut pendapat sarjana Kern dan Heine Geldern, nenek moyang bangsa kita berasal dan daratan Asia. Mula-mula nenek moyang kita diam di daerah Yunan (China Selatan), kemudian pindah ke selatan (ke daerah Vietnam). Oleh suatu sebab yang belum diketahui dengan pasti, mereka kemudian pindah lagi. Perpindahan tadi diduga terjadi antaratahun 1500 S.M.hingga tahun 500 SM. dan berlangsung secara bergelombang. Gerak tujuan perpindahan mereka ke pulau-pulau di sebelah selatan daratan Asia.
Pulau-pulau itu menjadi tanah airnya terakhir. Pulau-pulau di sebelah selatan daratan Asia tadi lazirnnya disebut AUSTRONESIA (Austro = selatan, nesos = pulãu). Bangsa yang mendiami daerah Austronesia disebut bangsa Austronesia. Bangsa Austronesia mendiami daerah Iingkup yang amat luas. Yaitu meliputi daerah atau pulau-pulau yang membentang antara Madagaskar (sebelah barat)hingga Pu/au Paska (sebelah timur) dan antara Taiwan (sebelah utara) hingga Se/andia Baru (sebelah selatan). Bangsa Austronesia yang masuk ke Indonesia disebut BANGSA MELAYU. Mereka adalah nenek moyang Iangsung bangsa Indonesia sekarang.
Bangsa Melayu dapat dibedakan menjadi 2. yaitu:
Bangsa Proto Melayu (bangsa Melayu Tua).
Bangsa Deutero Melayu (bangsa Melayu Muda).
1. Bangsa Proto Melayu (Bangsa Melayu Tua)
Advertisement
Kira-kira tahun 1500 SM. bangsa Proto Melayu masuk ke Indonesia.
a. Bangsa Proto Melayu memasuki Indonesia melalui 2 jalan, yaitu: jalan barat (melalui Malaya- Sumatra), dan jalan timur (melalui Philipina — Sulawesi Utara).
b. Bangsa Proto Melayu memiliki kebudayaan yang setingkat lebih tinggi daripada kebudayaan Homo Sapiens Indonesia. Kebudayaan mereka adalah kebudayaan batu baru atau neolithicum (neo baru. lithos = batu). Meskipun barang-barang Hasil kebudayaan mereka masih terbuat dari batu, akan tetapi telah dikerjakan dengan baik sekali. Barang-barang hasil kebudayaan mereka yang terkenal ialah kapak persegi dan kapak lonjong. Kebudayaan kapak persegi dibawa oleh bangsa Proto Melayu yang melalui jalan barat, sedang kebudayaan kapak lonjong dibawa oleh mereka yang melalui jalan utara.
c. Bangsa Proto Melayu akhirnya terdesak atau bercampur darah dengan bangsa Deutero Melayu yang kemudian menyusul masuk ke Indonesia
d. Bangsa Indonesia sekarang yang termasuk anak keturunan bangsa Proto Melayu, misalnya suku bangsa Dayak, Toraja dan lain-lain
2. Bangsa Deutero Melayu (Bangsa Melayu Muda)
Kira-kira tahun 500 SM. nenek moyang kita gelombang yang kedua mulal memasuki Indonesia
a. Bangsa Deutero Melayu memasuki Indonesia melalui satu jaIan saja, yaitu jalan barat (jadi meIalu Melayu Sumatra).
b. Bangsa Deutero Melayu memiIiki kebudayaan yang lebih tinggi daripada bangsa Proto Melayu.
Barang-brang hasil kebudayaan mereka telah terbuat dan logam. Mula-mula dan perunggu dan kemudian dan besi. Hasil kebudayaan logam Indonesia yang terpenting alah kapak corong atau kapak sepatu dan nekara Barang-barang dan logam tadi umumnya dibuat dengan tehnik a cire perdeu.
c. Bangsa Indonesia sekarang yang termasuk keturunan bangsa Deutero Melayu, misalnya suku bangsa Jawa, Melayu, Bugis dan lain-lain.
PENDESAKAN DAN PERCAMPURAN
Sebelum nenek moyang kita masuk dan menetap di Indonesia, di sini telah didiami oleh suku bangsa lain, yaitu
1. Suku bangsa WEDOID
2. Suku bangsa NEGRITO
KEBUDAYAAN
Nenek moyang kita telah memiliki kebudayaan yang tinggi mutunya. Hal ini ditunjukkan oleh bukti-bukti sebagai berikut:
1. Mereka telah mengenal tehnik pembuatan barang pecah beIah dan tehnik pembuatan barang-ba rang dan logam.
2. Mereka telah pandai menenun kain. Di antara barang pecah belah yang diketemukan ada yang dihiasi dengan cap-cap tenunan
3. Mereka yang hidup di pesisir telah pandai membuaf perahu, terutama perahu bercadik (bersayap).
4. Mereka juga telah maju di bidang kesënian
AGAMA / KEPERCAYAAN
Agama/kepercayaan nenek moyang kita oleh para sarjana disebut Dynamisme dan Animisme.
Dynamisme adalah suatu kepercayaan bahwa setiap mahkluk hidup dan benda mati memiliki kekuatan gaib.
Animisnie adalah kepercayaan bahwa setiap makhluk hidup dan benda mati memiliki rokh, 3wa atau nyawa.
Batas antara dynamisme dan animisme sebenarnya kurang jelas. Bahkan dalam prakteknya selalu bercampur satu dengan yang lain.
Langganan:
Komentar (Atom)